Laman

Senin, 30 Januari 2012

PINTU

Udara dingin menyusupi kulit ketika jam menunjukkan waktu tengah malam. Derap langkah terdengar samar di beranda rumah saat jemariku menjaga alam sadarku. Sepi seolah mengungkapkan beribu kisah ketika malam. Jam alarmku berbunyi. Ayam berkokok seperti sedang membaca puisi romantis. Syahdu sendu seolah mengungkapkan rindu akan pagi yang sebenarnya.
Hujan turun bernyanyi dengan nada sumbang berirama sedih dan rapuh. Kubuka kaca jendela saat kudengar derap langkah seperti penguntit mendekati kamarku. Aku mencium aroma bunga sedap malam yang sedang mekar. Kuberanikan langkah untuk berjalan keluar ditengah malam yang begitu mencekam rasanya. Saat kunyalakan lampu ruangan tamu, tiba – tiba seonggok tubuh telah terbaring diatas sofa baru yang dibeli ibu dua hari yang lalu. Tubuhnya besar dan bau asap. Aku mendekatinya lalu mencoba menyentuh punggungnya dengan penuh hati – hati. Tiba – tiba dia bergerak reflex dan bruukk!. Jatuh ke lantai. dia menarik kakiku dan mencoba memukulku. Serentak aku berubah layaknya seorang Spartan yang beringas. Aku menghajarnya hingga babak belur. Rasa sakit yang dia rasakan membuatnya semakin ingin mencekik leherku. Dengan sisa – sisa tenaga dia berusaha melawanku. Tapi aku terlalu tangguh malam itu.
Malam yang mencekam itu sejenak menjadi ramai dengan bunyi derap perkakas yang berhamburan dilantai. Pot antik milik ibu pecah, sedangkan televisi yang baru dibeli ayah rusak terkena remot yang dia lemparkan kepadaku. Kaca jendela pecah, kursi plastik pun ikut – ikutan patah. Tanganku berdarah. Sedangkan dia terkujur lemah dilantai dengan memar yang menutupi wajah. Entah kekuatan apa yang membuatku menggila sampai membuatnya seperti itu.
Saat itu lampu padam dan gelap menutupi ruangan tempat aku beradu. Hujan mulai mereda dan suara nafasnya semakin pelan hingga akhirnya aku tak bisa mendengarkannya lagi. Darah semakin banyak melumuri lantai.
Aku terbangun seketika dan rasanya seperti baru saja bermimpi buruk. Tubuhku begitu lelah seperti seharian bermain bola tanpa henti. Otot pahaku mengeram dan jari kelingkingku patah. Wajahku tersayat kaca. Aku ketakutan saat tersadar berada dalam suasana gelap.
Kusongsong jalan berdasarkan insting untuk mencari saklar lampu di ruangan itu. Saat lampu kunyalakan, aku melihat sebuah pintu berwarna putih tepat di depan pintu masuk. Rasa penasaran menggila membuatku ingin sekali untuk membukanya. Dengan nafas yang terengah – engah, langkahku berjalan pelan tapi pasti mulai menyongsong pintu. Saat didepannya, aku membuka pintu untuk memastikan apa sebenarnya yang terjadi didalam pintu tersebut. Sebab aku mendengarkan suara desahan wanita yang sedang bergelora.
Pintu terbuka, aku melihat seorang wanita cantik dan seksi dengan pakaian tipis berwarna ungu sedang bernyanyi dengan memegang sebuah maik. Didepannya ada seorang lelaki bertopeng yang tepat berdiri depan wajah wanita tersebut dengan memegang sebuah parang yang mengkilap. Dia melenggang dan hendak menebas kepala wanita dihadapannya. Refleksku pun aktif seketika. Lagi – lagi aku menghantamnya dengan beringas. Parang yang dipegangnya terjatuh dan aku mengambilnya lalu menebas kepala, perut dan kakinya. Saat aku hendak memeriksa keberadaan wanita tersebut, dia kemudian mencoba menikam jantungku. Aku menghindar dan bergerak gesit kembali menyerangnya. Aku tak bisa mengendalikan emosi yang membakarku, wanita itu pun tewas hanya dengan satu tebasan di kepalanya.
Pintu tertutup, dan pintu yang satunya terbuka secara paksa. Beberapa pria dewasa dengan memegang senjata menodongku. Mereka merengsek masuk dan menghajarku. Aku tersadar, saat berada dikantor polisi, ketika seorang petugas menyiramku disebuah ruangan interogasi. Aku kebingungan dan meminta mereka menamparku. Aku mengira aku sedang bermimpi. Aku berusaha bangun, ku pejamkan mata lalu kubuka lagi berkali – kali. Tapi situasi tidak berubah sama sekali. Aku bertanya kepada petugas itu. Dimana aku berada ? kenapa tubuhku terikat ? dan mereka hanya tersenyum lalu menghantam kepalaku.
Mereka membawaku ke sebuah sel. Disana sekumpulan homo telah menungguku. Mereka menelanjangiku dan memperkosaku. Aku hanya bisa menjerit dan menangis. Mereka menahan kedua tangan dan kakiku. Sejak saat itu aku menyadari bahwa ini bukan mimpi lagi. Aku masih tak tahu alasan mengapa berada di dalam penjara ini.
Dua minggu kemudian sidang telah menungguku. Aku dijatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara akibat tindak kriminal terkeji di awal tahun 2012. Ternyata aku telah membunuh ayah, ibu, dan pamanku. Saat kembali ke penjara, dimalam hari, aku melihat sebuah pintu berwarna hitam. Aku mendekat dan membukanya. Tiba – tiba aku berada didepan kamarku. aku melihat Ayah dan ibu sedang menonton diruangan tamu. Pamanku kemudian melompat dari jendela kedalam kamarku dan mengagetkanku. Lalu dia tersenyum. Aku menampar pipiku dan rasanya hambar. Aku kebingungan dan berjalan mendekati ayah dan ibu. Tiba – tiba aku terhadang sebuah pintu berwarna putih. Aku pun masuk dan berada disebuah peti. Hingga aku tak bisa bernafas, aku mengharapkan ada pintu lagi. Tapi sayangnya tidak ada. Itu adalah pintu terakhir yang aku buka.

31-01-2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Arsip Blog