Penulis : (achi breyvi)
Stage I
(di bawah terangnya rembulan sesosok pemuda duduk sambil memainkan harmonika ).
Apong : (dengan gaya seorang tuna daksa )
Andaikan aku bisa memilih, aku tak ingin menjadi seperti ini.
Oh Tuhan, tolong aku. Berikan kehidupan yang sesungguhnya untukku.
Kenapa Kau tak berikan aku kehidupan normal seperti mereka.. ?
(sambil menunjuk kearah segerombolan anak Punk yang tengah asik
bercanda).
Suara : kau tak seharusnya seperti ini.
Waktu : kadang hidup terasa tak adil
Bermacam – macam keluh dan peluh terucap
Segelintir orang mencoba memprotes
Tapi Tuhan, tak pernah ingin di protes.
(di sebuah taman, segerombolan anak Punk mendekati apong ketika melihat dia memegang sebuah rubiks)
Brandal : woi, anak cacat ! berikan uang kamu cepat !
Apong : tidak, aku tidak punya uang.
Brandal : alah!!! Kamu jangan berpura – pura lagi, kamu anak seorang pengusaha
kaya bukan ??
Apong : bukan, saya hanya anak seorang buruh.
Brandal : alah perduli amat, cepat berikan apa yang kau punya.
Apong : tidak, jangan ! kumohon..!!
Brandal : ayo hajar dia. Orang seperti kamu harusnya mati saja.
(brando dan kawan-kawan bergegas meninggalkan apong)
Apong : suatu saat nanti kalian akan kubalas.
(masuklah seorang wanita dan menolong apong.)
Lusi : hei, kenapa denganmu ? siapa yang melakukan ini ?
Apong : aku tidak apa – apa. (sambil berdiri menghindari lusi)
Lusi : hei, jangan takut. Aku tak akan menyakitimu.
Apong : kamu pasti akan menghinaku bukan ?
Kamu pasti akan menertawakanku ?
Kamu pasti akan memukulku kan ?
Lusi : kenapa kamu berkata seperti itu ? aku tak akan menghinamu, tak akan
Menertawakanmu, apalagi memukulmu ! tak perlu takut seperti itu.
(mulai mendekati apong)
Apong : tidak, kamu pasti berdusta. Kau akan menculikku dan membunuhku.
Kau akan memenggal tubuhku lalu membuangnya ke dalam laut.
Pergi kau! Pergi! Atau aku akan melemparmu!
Lusi : aku bukan orang seperti itu. Jangan takut, aku baik.
(kemudian menawarkan sebuah permen). Kamu mau ?
Apong : aku mau. (merampas permen yang dipegang lusi, kemudian membuka
Dan memakannya.
Lusi : boleh kita berkenalan ? nama saya lusi.
Apong : saya apong. Apong. Saya apong.
Lusi : kamu tinggalnya di mana ? mungkin kita bisa berteman.
Apong : teman ? kamu mau berteman denganku ? benarkah ?
Lusi : yah, kenapa tidak. Kamu mau ? apong tinggalnya dimana ?
Apong : (menganggukkan kepalanya) saya tinggal di rumah.
Lusi : iya, tapi dimana apong ? saya juga tinggal di rumah.
Apong : di, di dekat sini. Maaf, saya harus segera pulang. (meninggalkan lusi)
Stage II
Apong sedang duduk di taman sambil bermain rubiks
Terdengar suara yang melantangkan tanya terhadapnya.
Suara : wahai pemuda, siapakah namamu ?
Apong : apong, namaku Apong. Apong.
Suara : apakah kau bahagia hidup seperti ini ?
Apong : tidak! Tidak, aku tak bahagia.
Suara : mengapa kau tak bahagia ?
Apong : karena aku selalu di tindas. Dimanapun dan oleh siapapun.
Suara : lalu apa yang ingin kau lakukan kepada mereka yang menindasmu ?
Apong : bunuh!, bunuh! Aku ingin membunuh mereka.
Suara : silakan.
Apong : tidak, tidak. Aku tidak bisa.
Suara : yah, kamu bisa. Kamu harus bisa.
Apong : bagaimana caranya ?
Suara : bunuh mereka. Tikam, tembak atau gantung.
Apong : tidak, aku takut masuk penjara.
Suara : apa kau pikir mereka tidak membencimu ? mereka ingin membunuhmu!
Apong : siapa ? siapa ? ayah ? ibu ? kakak ? brandal ? lusi ?
Suara : yah, mereka semua ingin membunuhmu. Bunuh mereka sebelum
Mereka membunuhmu.
Apong : tidak, aku takut. Aku cacat. Aku cacat. Aku tidak cukup kuat.
Suara : racuni mereka. Beri racun di dalam makanan dan minuman.
Apong : racun ? racun ? bagaimana caranya ?
Suara : kau tahu caranya.
Apong : tunjukkan. Contohkan. Ajarkan aku. Aku ingin membunuh mereka.
Hei, kau yang bicara padaku tunjukkan. Tunjukkan padaku caranya.
(apong berontak)
Apong : hei langit, tunjukkan padaku ! diam. Ayo bicaralah. Ayolah. Ayo.
Aku ingin membunuh mereka semua. Ayo bicara ! tunjukkan !
Hei, bicara padaku.
(apong meratap)
Apong : mereka hanya bisa mengejekku, mereka hanya bisa menertawakanku.
Mereka hanya bisa memukulku. Mereka sama sekali tak menyayangiku.
Kenapa Apong harus seperti ini. Aku ingin menjadi manusia normal.
Mengapa ? haruskah aku ? mengapa aku begini ?
(lalu Apong tertidur di tempat itu)
Stage III
Lusi : Apong, bangun apong. Ayo bangun. Kenapa denganmu ?
Apong : tidak, tidak apa – apa. Apong tidak apa – apa.
Lusi : ayo ceritakan apa yang terjadi apong. Mungkin saya bisa membantu.
Apong : tidak, jangan. Kau tak perlu membantuku.
Lusi : ayolah apong. Kita sahabat bukan ?
Apong : bukan! Kita bukan sahabat. Kita berbeda.
Lusi : berbeda apanya apong ? kita sama – sama manusia.
Apong : bukan! Apong bukan manusia. Apong monster ! apong cacat !
Dan manusia bukan monster ! juga bukan cacat ! apong harus mati.
Lusi : apong, kamu jangan berkata seperti itu. Kamu itu manusia sama
denganku. Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar dan
rupanya.
Apong : tidak, kita berbeda. Tuhan tidak menciptakanku. Hanya kamu saja !
Aku diciptakan oleh kedua orang tuaku yang jahat. Mereka membuatku
cacat. Membuatku seperti monster.
Lusi : apong, kamu bukan monster ! kamu manusia sama sepertiku.
Memangnya siapa yang bilang kamu monster ?
Apong : ayah, ibu dan kakak!
Lusi : lalu siapa yang bilang kamu cacat ? kenapa kamu harus mati ?
Apong : brandal. Brandal dan teman – temannya bilang aku mati saja.
Lusi : tidak Apong. Kamu tak boleh mati. Itu urusan Tuhan. Dia yang
Menentukan kapan manusia itu lahir dan kapan manusia itu meninggal.
Apong : apong juga bisa. Apong juga bisa menentukan kapan.
Lusi : apa maksudmu ?
Apong : bunuh. Bunuh. Membunuh. Apong ingin membunuh mereka.
Lusi : jangan Apong. Itu tidak baik, itu dosa. Siapa yang ingin kau bunuh ?
Apong : semua. Semuanya. Aku ingin membunuh semuanya.
(apong meninggalkan Lusi sendirian di taman )
Stage IV
(ayah dan ibunya sedang menonton TV di ruang tamu)
Apong masuk
Apong : malam. Malam mama malam papa. Apong pulang.
Ayah : darimana saja kamu bodoh ? dasar anak bodoh.
Ibu : Apong kamu dari mana saja ? hanya bikin susah !
Sudah cacat, masih saja keluyuran. Apalagi kamu normal.
Ayah : Apong kesini kamu.
Apong : iya papa. Kenapa papa ?
(ayahnya langsung menghajarnya dengan cambuk lalu Apong menangis)
Ibu : sudah. Tidur sana.
Apong : lapar. Apong lapar mama.
Ibu : makanan sudah habis. Apong tidur sana !
Apong : baik. Baik mama.
(apong segera mengambil tikar dan selimutnya lalu membaringkan tubuhnya sambil menguping)
(sementara itu ibu dan ayahnya makan sambil menonton TV)
(apong belum tidur dan hanya bisa menangis menahan lapar.)
Ayah : besok papa berangkat keluar kota. Selama seminggu ke bali.
Ada proyek yang harus dikerjakan.
Ibu : jangan lupa belikan mama oleh – oleh ya.
Ayah : iya iya. Ayo kita istirahat.
Stage V
(Apong sendirian dirumah dan duduk sambil menonton TV)
Suara : Apong, sudahkah kau melakukannya ?
Apong : siapa ? siapa kamu ? (sambil mencari – cari)
Suara : bunuh saja mereka. Mereka sedang menrencanakan sesuatu.
Apong : apa ? rencana apa ?
Suara : membunuhmu ! (apong ketakutan)
Apong : mama ? papa ?
Suara : iya. Dan kakakmu.
(apong kerasukan dan membunuh kedua orang tuanya)
(dia menikam ayahnya yang sedang tertidur)
Apong : ku bunuh kau ! mati ! mati ! mati kau !
Ibu : Apong ! apa yang kau lakukan ?
Apong : kau juga ! kau mau membunuhku kan ?! kau harus mati.
(ibu berusaha lari tapi sayangnya terjatuh)
Apong menikam punggung ibunya hingga tewas.
Stage VI
Apong duduk di sebuah taman sambil memegang pisau.
Tiba – tiba Rudi kakaknya apong menghampirinya.
Rudi : dasar sialan ! dasar monster ! kau membunuh ibu dan ayahmu ?
Apong : bukan, bukan apong ka. Bukan apong ka.
Rudi : dasar cacat ! bodoh! Akui saja !
Aku akan membunuhmu !
(dia menghajar Apong sementara itu apong hanya diam)
Lalu terdengar suara. (sementara rudi terus menghajar apong)
Suara : Apong, bunuh dia. Benarkan apa kataku ?
Mereka ingin membunuhmu !
Apong : tidak. Aku tidak mau!
Suara : bunuh ! bunuh dia !
Apong : tidak ! aku tidak mau !
Suara : bunuh sekarang juga ! tikam dia !
Apong : tidak ! dia kakakku !
Rudy : apa yang kau bicarakan monster ! idiot !
Apong : kubunuh kau !
(apong berusaha meraih pisau dan menikam kakaknya hingga dia)
Apong : haha hahahaha aku berhasil membunuh mereka !!
Hahahaha! Tak ada lagi yang bilang aku monster !
Tiba – tiba lusi masuk menghampiri apong.
Lusi : Apong ? apa yang kau lakukan ?
Apong : (apong tersadar perbuatannya)
Apong : tidak, apa yang apong lakukan ? tidak ! bukan apong yang
Lakukan ini. Bukan apong.
Lusi : kamu yang membunuhnya apong. Bukan orang lain.
Apong : maafkan apong. Apong tidak sengaja. Apong tidak sengaja.
Maaf lusi. Maafkan apong. Ampun. Jangan pukul apong.
Lusi : (merangkul Apong dan duduk berbincang – bincang)
Lusi : apong, kenapa denganmu ini ? kenapa kau membunuh kakakmu ?
Apong : aku tak tahu. Dia yang menyuruhku. Dia. Dia yang bicara begitu keras.
Lusi : siapa apong ?
Apong : dia. dia. Dia di telingaku. Dari langit mungkin.
Maafkan apong. Maaf.
Tiba – tiba terndengar suara lagi.
Suara : bunuh dia ! bunuh dia lusi. Orang ini akan membunuhmu !
Lusi : tidak, aku tidak mau ?
Apong : (merasa heran dengan lusi yang berbicara sendiri) kenapa kamu ?
Lusi : tidak apa – apa apong.
Suara : bunuh dia ! dia menyadari kau akan membunuhnya.
Lusi : tidak, tidak. Aku tidak mau ! tidaaak !!!
Apong : lusi ? kenapa kamu ? lusi
Suara : bunuh ! bunuh ! bunuh ! bunuh dia !
Lusi : tidak !!!! (lalu mencekik leher Apong hingga tewas).
Kemudian polisi tiba dan menangkap Lusi. Lusi menjadi tersangka sebagai pelaku utama pembunuhan itu.
*SELESAI*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar