TENTANG SI NENEK
10 – 08 – 2011
Karya : Achi Breyvi
Malam menyeruput pelan ketika angin mencoba mencicipi kulit kasarku. Aku terpaku di depan layar kaca milik temanku. Jari – jariku sibuk melompat dari kursor satu ke kursor yang lain. Buku – buku referensi ilmu kedokteran tergeletak di atas meja yang menampung laptop, handphone dan secangkir teh. Malam itu aku disibukkan untuk menyusun materi dalam tugas perkuliahan. Mataku semakin terasa perih dan sulit untuk melanjutkan tugas, namun deadline yang diberikan dosen menuntutku untuk segera menyelesaikannya dan memasukkannya besok pagi.
***
Dasar dosen sialan ! ku sumpahi semoga kamu mengalami kecelakaan dan tewas. Kekesalanku meledak ketika tugas yang ku masukkan di tolak. Betapa sialnya saya karena dia bahkan merobek hasil kerja kerasku, sedangkan beberapa temanku yang tidak membuat tugas diberikan nilai yang bagus. Pasti dosen ini merupakan salah satu dosen penganut agama baru. Money politik itu agama yang cocok untuk dosen botak seperti dia. Agama yang dianut oleh dosen penjilat. Kekesalanku terhadap dosen – dosen seperti itu membuat aku berani mengklaim bahwa money politik di kategorikan sebagai agama baru. Tapi hanya dalam kamusku saja, sebetulnya tanpa alasan dan tanpa landasan teori melainkan hanya ungkapan kekesalan yang frontal keluar dari mulutku.
Siang itu aku berjalan melewati kantin tempat teman – temanku mengobrol. Dengan raut wajah yang kesal, aku melenggang masuk menyambar minuman temanku dengan bibir yang berkomat kamit. “hei Bob, kenapa denganmu ? seru Ipe sambil menepuk punggungku. Itu si dosen botak sialan, dia tak menerima tugas yang kumasukkan hanya karena saya telat memasukkan tugas dan absen kehadiranku tak cukup untuk menunjang nillaiku, katanya sih ! tapi anehnya anak – anak yang lain diberikan nilai yang bagus, padahal setahu saya si Alfons dan David baru bergabung kuliah satu bulan yang lalu.
***
Bangun Bob, kamu kok tidurnya di sini, pindah kamar sana. Seru temanku Riko yang membangunkanku ketika tertidur di depan laptop. Aku bergegas masuk ke kamar tanpa mempedulikan buku – buku yang berserakan di atas meja. Laptop ku bawa ke kamarku dan hendak bermaksud melanjutkan tugasku.
***
Hari ini Mner Boski di makamkan di pemakaman umum. Dia meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Tangannya patah dan kepalanya pecah. Penyebab kecelakaan dari Mner Boski dikarenakan rem mobilnya jeblong ketika melintasi jalan menuju kawasan pegunungan tempat tinggal orang tuannya yang sudah tua.
Aku dan teman – temanku pergi melayat kerumahnya. Dalam perjalanan di pagi itu, kami mengalami kecelakaan, tepat di depan lokasi kecelakaan Mner Boski. Lima teman saya tewas di lokasi kecelakaan, sedangkan saya tak terluka sedikitpun. Lalu ketika hendak keluar dari mobil Avanza merah saat itu, aku mendapati Mner Boski sedang menceramahi ke lima temanku yang tewas. Mereka terlihat begitu berbeda, satu keanehan ketika aku melihat tubuh teman – temanku yang tergeletak tak berdaya di dalam mobil, sedangkan di hadapan saya mereka berlima di ceramahi oleh Mner Boski yang notabene sudah jelas – jelas meninggal dunia. Aku kebingungan dan menampar pipi kiri dan kananku. Saat aku mencoba mendekati mereka, Mner Boski menatapku dengann tatapan yang tajam. Dia mulai mendekatiku dan mulutnya mulai berkomat kamit, namun tak kudengar suara apapun yang keluar dari bibirnya, kecuali ketika dia menceramahi kelima temanku. Aku ketakutan dan berusaha menyadarkan diri jika ini hanyalah mimpi atau memang sebuah realita.
***
Bangun Bob, sudah pagi !. ketika ku terbangun, “ah syukurlah”, aku tersadar dan ternyata itu semua hanya mimpi. Aku bergegas menyiapkan diri menuju kampus. Tugas yang kukerjakan hampir selesai, dan aku bermaksud merampungkan tugas ini di kampus nanti. Saat tiba di kampus, aku mendengar teman – temanku berbicara soal mengumpulkan dana duka. Ternyata Mner Boski meninggal dunia akibat kecelakaan ketika hendak menuju kampus. Mobilnya di tabrak oleh sebuah truk di perempatan jalan dekat gapura kampus, dari informasi yang diterima atas pernyataan pelaku bahwa supir truk tersebut lepas kendali ketika rem dari truk tersebut jeblong.
Aku dan teman – temanku berencana melayat ke esokkan harinya kerumah tempat tinggal orang tua Mner Boski, sebab disanalah jenasahnya di semayamkan.
Pagi t’lah tiba dan mobil Avanza merah milik Irma telah menjemputku. Aku segera bergabung dengan kelima temanku, lalu perjalanan pun di mulai. Di perjalanan menuju puncak, ku tatap jejeran perkebunan kopi yang tertata rapih. Disana ku melihat seorang nenek menatapku dengan sinis, lalu melambaikan tangan ke arahku dengan meneriakkan kata “jangan kesana nak ”, tapi sayangnya aku hanya mengacuhkannya. Tak sampai dua menit setelah nenek itu hilang di kejauhan, tiba – tiba : bruuuuukk!!!! Kelima temanku tewas.
Hari ini 1 tahun setelah meninggalnya kelima temanku, tiba – tiba aku melihat nenek itu di depan pintu rumahku dengan melambaikan tangan dan meneriakkan kata “keluar”. Dan aku pun bergegas keluar menghampirinya, namun sialnya dia menghilang begitu cepat. Dan ketika ku berada di luar, rumahku runtuh tertimbun tanah longsor. Tiga orang adikku beserta ayah dan ibuku tewas seketika itu juga. Aku hanya terdiam dan meratap tanpa mengeluarkan sepata katapun.
Hari ini 1 tahun meninggalnya kelima anggota keluargaku dan 2 tahun meninggalnya kelima sahabatku. Aku berjalan menuju ke apotek untuk membeli obat flu yang menyerangku, ketika ku tiba disana aku mendapati nenek itu sedang duduk melihat seorang wanita yang tengah asik menelepon. Ku sapa nenek itu dan mencoba mencurahkan kekesalanku terhadapnya, tapi aku tak bisa. Dia membisikkanku sebuah kalimat, “pulanglah nak dan tuliskan semua yang pernah kau lalui denganku”. Ketika itu pun aku pulang dan menulis kisah – kisah itu. Ke esokan harinya aku kembali ke apotek itu, dan mendapati apotek itu telah habis di santap si jago merah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar