Laman

Kamis, 28 Maret 2013

SURAT YANG TAK PERNAH SAMPAI

Aku seperti berjalan di padang tandus
Sunyi
Sendirian
Mengapa kau duduk di teras sambil membelai cincin pemberianku? Enggan kah engkau tuk menemaniku?

Di sini
Di jalanan ìñì
Aku menyusuri dengan saksama
Bukan asal asalan
Telah kutemukan beberapa tempat
Untuk menjadi bagian terpenting dari peradaban
Bukan sekedar sekedarnya
Tapi apa kau bilang?
Jalanku hanya fatamorgana?

Tidak sayang
Kau tak merasakan terik di padang ìñì
Karena hanya duduk dan sibuk merapikan pakaian pemberianku

Lalu kau minta aku kembali
Setelah kau tahu telah berapa jauh berjalan
Lalu menghakimi dengan mengataiku bahwa aku tak tahu kemana arah aku berjalan
Kau salah!
Salah besar sayang

Apakah ìñì yang kau sebut cinta?
Meminta mundur seribu langkah setelah kakiku luka
Dan tubuhku mengering termakan waktu di padang ìñì
Jangan kau tarik aku
Sebab aku bukanlah prajurit perang Чǝлб dengan mudah di tempatkan, dan dengan mudah di kembalikan └∂ģî

aku punya jalan sendiri
Bila kau cinta doakan aku untuk mendapatkan tujuanku
Supaya aku akan datang menjemput
Bukan dengan kereta apalagi jalan kaki
Karena aku ingin membuat pesawat
Dan di teras rumahmu
Tak cukup lahan untuk pesawatku

Sayang kau boleh benci
Bila aku sungkan mengenakkan rantai Чǝлб kau sebut gelang
Sebab
Karena bila mencintaimu aku harus mendekam dalam penjara sepi
Maka aku akan memilih berhenti mencintai
Karena itu bukan cinta
Hanya fatamorgana
dan jangan coba - coba membujuk sedih
Sebab untuk ke terasmu itu aku tak sudi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Arsip Blog