TAKDIR CINTA DAN PERSAHABATAN II
Kemudian malam telah tiba, bintang dan bulan mengisyaratkanku untuk segera pulang menemui isteri dan anakku yang sedang menanti dirumah setelah ku menyelesaikan tugas – tugas kantorku. Rumah ini terasa begitu damai ketika ku songsong, lalu si kecil berlari menyambarku dengan ribuan senyum. Dia begitu menggemaskan membuatku terlarut dalam kebahagiaan ketika ku memeluknya. Begitu banyak harapan yang tersimpan dalam hati kecilku untuk sang buah hati.
“sayang, sini mama peluk, biar papa istirahat dulu. Seru Reysha isteri Aldo. Sana istirahat dulu bibeh, sebentar saya siapkan makanan dulu. Selesai ku membersihkan tubuh dari aktivitas keseharianku, lalu ku sejenak duduk di kursi hitam sembari menatap buah hati kecilku yang sedang bermain. Mataku mulai sayup, dan ku mulai tertidur.
“ apa sih maumu aldo..? aku benci kamu,.! Sambil Lia meninggalkan Aldo sendirian. Aldo hanya terdiam disaat itu. Mereka berdua tak saling bertegur sapa lagi sejak kejadian itu. Rupanya Aldo juga marah dengan sifat lia seperti itu. Namun kemarahan aldo tak seperti lia yang begitu meledak – ledak seperti tabung gas yang siap menerkam siapa saja yang ada didekatnya.
“oh iya, lia sebenarnya ada yang ingin aku katakan, ujar Dion. Lia “katakana saja, ayo tak usah berbelit – belit nanti kamu bikin saya penasaran saja dion, dengan nada datar. Dion “ besok aku bakalan pindah ke Jakarta, kemungkinan besar nggak bakalan balik lagi, Soalnya aku mau pindah kuliah dan aku akan melanjutkan hidupku disana.” Dengan nada merendah dan wajah yang murung Dion berusaha untuk tersenyum meskipun sulit. Sedangkan lia hanya terdiam, kaget dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Seolah – olah tak percaya mulutnya mengangap sementara kedua alis matanya terangkat dan matanya mulai berkaca – kaca. Sebelum Lia bertanya alasan yang lebih terperinci dari Dion, Dion langsung melanjutkan perkataannya “ tolong kamu beritahu sama Aldo, dan teman – teman yang lainnya, soalnya aku nggak sanggup memberitahukan ini terhadap Aldo. Rasanya aku ingin menangis dan aku nggak mau kelihatan konyol di depannya jika aku harus menangis,” seru Dion.
Lia masih merasa sedikit tak percaya dengan apa yang baru dikatakan sahabatnya itu. Namun Dion langsung bergegas meninggalkan Lia sendirian sambil Dion tersenyum. “ bro, kamu tega juga ya,.?!! Nggak kasih tahu aku dan lainnya sebagai sahabatmu kalo besok kamu sudah pindah ke Jakarta, apa sih sebenarnya yang sedang terjadi denganmu..? kamu mau meninggalkan semua yang kita bangun bersama disini..? bagaimana dengan semua mimpi kita, harapan kita, ambisi kita dan kenangan kita semua..??!! ayolah bro, cerita lah padaku..! seru Aldo dengan nada kecewa dalam sebuah pesan singkat yang dia kirimkan ke Dion melalui sms. Mereka saling beradu argument ketika itu, kemudian satu keputusan diambil, yaitu mereka semua akan bertemua Dion untuk terakhir kalinya di tempat dimana mereka memulai kisah mereka sore nanti di sebuah Gedung yang terletak di pinggiran pantai di pusat kota. Gedung itu menyimpan begitu banyak kenangan persahabatan mereka.
Suasana sore ini begitu mengecewakan, mendung dan pasti sebentar lagi hujan, seru Gatot dalam hatinya ketika berjalan menuju gedung itu. Sayangnya tidak semua sahabat Dion dapat berkumpul dengannya untuk yang terakhir kalinya, ada beberapa temannya yang berhalangan hadir diantaranya Viska dan Rhylia. Mereka sedang berada di luar kota bersama keluarga.
Aldo dan Reysha tiba duluan di lokasi pertemuan. Kemudian Dion tiba dengan wajah tak berekspresi. Tak terlihat lesung pipihnya sedangkan Aldo dan Reysha merasa kaku untuk memulai sapaan atau membuka pembicaraan. Mereka berdua hanya bisa melihat Dion dan berusaha untuk tersenyum. Rasanya sulit ketika itu untuk memulai pembicaraan. Namun akhirnya terucap sudah sebuah kalimat yang terdengar rancuh, “bro, kenapa mau pindah..? cerita ke kita lah sekarang..!! kemudian Reysha menyambut, “iya cerita dong, “. Hanya itu kalimat yang dapat terucap dari mulut kedua sahabatnya itu. Sedangkan Dion hanya tersenyum dan berkata : nanti saja, sekalian sama teman – teman yang lainnya, biar nanti aku tak bercerita berulang kali dengan yang lainnya.
Suasana semakin kaku, Aldo merasa gelisah, begitupun dengan Reysha, mereka berdua bertatapan mata, dan bicara dari hati ke hati seolah menyuruh satu sama lain untuk terus membuka topik pembicaraan. Sore itu mendung menyelimuti langit, awan berkabut seolah menjadi saksi akan kepergian Dion, sementara lautan terlihat membagi warna sedangkan angin yang bertiup begitu kencang ketika itu. Hampir sama seperti isi hati Aldo, Reysha dan Dion. Setiap mereka menyimpan ekspresi kekecewaan dan kehilangan saat itu. Aldo dan Dion berdiri saling membelakangi sedangkan Reysha tepat di tengah di mana mereka berdiri. Aldo menghadap kelaut sembari menyikapi makna lautan di sore itu, sedangkan Dion menatap ke langit merenungi gelapnya langit di sore itu dan Reysha hanya cemberut dan bingung harus berbuat apa untuk membuat suasana terasa hidup.
Kemudian semuanya telah terkumpul dan Dion membuka canda dengan berkata : “semuanya baris,.!! Hehehe dia tersenyum memaksa, seolah – olah mereka hendak mengadakan upacara bendera saja. Satu persatu gelang mulai Dion pasangkan di tangan sahabat – sahabatnya. Warna ungu mewakili persahabatan yang telah terjalin, warna biru mewakili senyum dan canda yang pernah ada. Terpasang sudah di tangan Lia, lalu Dion berucap “ gelang ini kuberikan kepadamu agar supaya kau tetap tersenyum, dan memancarkan canda tawa dalam keseharianmu, semoga hatimu selalu mengalir seperti air,” gelang biru muda telah melingkar. Mata Lia mulai berkaca kaca, rupanya dia menahan tangisan kehilangan, ketika sahabatnya terlanjur meneteskan air mata, Lia pun ikut menangis, air mata menetes jatuh di pipih dan parasnya yang manis. Dia mulai meringih tangis, Dion berusaha menahan air matanya, tak mau dia menangis ketika itu. Lalu sebuah gelang kembali melingkar di tangan sahabatnya hingga gelang merah tak berkait ikut melingkar di tangan Aldo. “gelang ini mewakili semua impian, harapan, ambisi dan motivasi yang kita miliki, dan semangatmu yang menggebu – gebu, thanks bro karena selama ini banyak membantuku dan memberiku motivasi yang sangat berguna untukku. Aldo yang mengenakkan kaca mata hitam bermakdsud melindungi matanya dari tetesan air mata, tapi apa daya dia tak mampu membendung kesedihannya saat itu dan air matanya pun mengalir seperti keran bocor dan yang merangkak keluar dari dinding kaca mata hitamnya. Satu gelang lagi terlingkar di tangan Gatot, dengan polos dia berkata : “ku harap kau hanya bercanda Dion” dan kuharap setiap hari kau bercanda seperti ini seolah – olah kau hendak meninggalkan kami padahal tidak, agar kita semua dapat kembali terkumpul seperti ini tidak hanya terkumpul ketika hendak melepasmu pergi, karena selama ini kita semua mulai terpisah – pisah”. Dion hanya terdiam dan Aldo menatap tajam mata Gatot dan Dion, rupanya Aldo berusaha mencari makna dalam perkataan Gatot yang terdengar polos. Sementara yang lainnya terlarut dalam kesedihan yang mendalam.
Aldo kemudian memberikan sebuah kenang – kenangan terhadap Dion. “ Bunga yang terlihat kering ini namanya Edelweis, ini adalah bunga abadi yang tak akan rusak meski di sengat panas, tak akan mati meskipun tidak kau siram, tak bisa ditemukan di taman kota, karena bunga ini hanya berada di kawasan puncak Gunung Soputan, beberapa waktu yang lalu saya memetiknya disana dengan mempertaruhkan nyawaku.” Seru Aldo. Maklum saja Gunung tersebut termasuk salah satu Gunung merapi yang masih aktif di Indonesia. Kemudian Aldo memeluk Dion dan menangis. Lia terus menangis dan yang lainnya.
“satu permintaan dariku terhadap Aldo dan Lia”, yang setahu saya sedang bermasalah saat ini, entah apapun masalah diantara kalian berdua, aku mohon untuk segera baikkan saat ini juga”seru Dion seraya mengucapkan permintaan terakhir untuk kedua sahabat terdekatnya. Kemudian Aldo memulai ”Lia, apapun kesalahanku terhadapa kamu, aku minta maaf”!! sambil menyodorkan tangan kanan untuk berjabatan tangan dan menatap wajah Lia. Sangat disayangkan Lia masih bersikeras tidak mau memaafkannya. Terlihat konyol dan memalukan Aldo saat itu, Aldo bermaksud mengakhiri permasalahannya dengan Lia, tapi apa daya Lia tak mau memaafkan Aldo, entah apa yang diinginkan Lia, mungkin saja dia menginginkan Aldo mencium kakinya, tapi itu tidak mungkin. Aldo tak mempedulikan sifat Lia yang hanya menatap Aldo dengan tatapan kebencian. Sedangkan sahabat – sahabatnya yang lain mulai menilai sikap Lia, ada beberapa yang kecewa tapi mereka tak mau mengungkapkannya saat itu. Maklum mereka tak mau merusak moment terakhir dengan Dion. Dion kecewa terhadap Lia saat itu yang tak bisa mengabulkan permohonan terakhirnya untuk kedua sahabatnya.
Lagi – lagi keegoisan masih melekat dalam diri masing – masing pribadi. Aldo hanya bisa meminta maaf terhadap Dion karena tak mampu mengabulkan permintaanya dikarenakan Lia yang belum bisa memaafkannya. “bro, aku berusaha mengabulkan permintaanmu, dan memang jauh dalam lubuk hatiku, aku ingin meminta maaf meskipun kau tak menyuruhku, tapi apa daya dia tak bisa memaafkanku.” Seru Aldo dengan nada kecewa tapi tetap tersenyum walaupun senyum itu hanya menjadi tameng kekecewaannya. Beberapa sahabat merasa kasihan terhadap Aldo yang mempertaruhkan harga dirinya di depan banyak orang. Mereka menghargai kejantanan Aldo yang berani menyodorkan tangannya terlebih dahulu dan sikap sportif yang dimiliki Aldo. “oke” kalo begitu thanks bro, seru Dion. Kembali suasana menjadi haru mengingat sebentar lagi mereka akan berpisah.
Semuanya saat itu seolah siap melepas pergi dan merelakan satu dari sahabat mereka hendak meninggalkan mereka. langit pun ikut menangis, rintik demi rintik jatuh dan mereka bergegas menuju ke suatu tempat untuk sekedar menikmati kebersamaan yang tersisa.
“sayang, ayo bangun makanannya sudah siap, bangun dong kamu kan belum makan” seru isterinya. Aldo ketiduran di kursi hitam itu. Rupanya Aldo sempat bersafari ke alam mimpi. Dia bangun dan langsung menuju meja makan disana buah hati kecilnya sudah menunggunya sambil tersenyum. Aldo menghampirinya dan mencium pipih anaknya lalu memulai melahap makanan yang ada. Selesai makan malam keluarga yang bahagia ini pun beristirahat karena hari mulai larut malam. Lampu kamar dimatikan, kedua tangan Aldo merapat dan mulai memanjatkan doa kepada yang kuasa untuk bersyukur atas hari yang telah dia lewati sambil menutup aktivitasnya dan Aldo pun tertidur.
“Bro, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi, dan itu pasti ketika aku telah menjadi orang yang sukses begitu juga sebaliknya, aku tak akan pernah melupakan kisah kebersamaan yang telah kita lewati ini, dan semuanya akan saya apresiasikan dengan menulis sebuah cerpen dan karya sastra lainnya mengenai kisah – kisah yang kita lewati, “aku janji”!! sambil dia tersenyum menatap Dion. Sahabat yang lainnya pun ikut mengaminkan apa yang Aldo ucapkan. Lalu Aldo meninggalkan Dion dengan menaikki kendaraan pulang menuju kerumahnya. Lembaian tangan terakhir sambil mengacungkan jempol saat itu, dan itu kali terakhir Aldo melihat Dion berdiri disamping jalan bersama sahabat – sahabatnya.
“Bangun sayang”, hari sudah pagi.. dengan lembut dibisikkan Reysha ke telinga Aldo sambil memberi kecupan manis di bibirnya. Rupanya burung – burung sudah bernyanyi menyambut hari, suasana hari itu sangat cerah, matahari tidak terlambat menyapa pagi begitupun isterinya tidak terlambat membangunkan Aldo. Kembali Aldo merapatkan tangannya bersyukur atas malam yang telah terlewati sembari meminta tuntunan dari yang Maha Kuasa untuk hari yang hendak dia lewati.
Begitulah Aldo yang tak pernah lepas dari mimpi. Aldo bangun dan bergegas mempersiapkan diri untuk tugas yang baru di hari itu. Reysha pun mempersiapkan Mando untuk mengikuti Play Group di tempat salah satu rekan kerjanya. Hari itu aktivitas kembali mereka laksanakan sebagaimana biasanya.
Kemudian senja mulai menyapa, langit tampak kuning kemerah – merahan, awan mulai membentuk sebuah konfigurasi yang membuat mata tak ingin melewatkan pemandangan di sore itu. Tibalah waktu Reysha kembali ke rumah menjalankan kembali tugasnya sebagai ibu rumah tangga selepas dia melaksanakan tugasnya sebagai seorang pegawai. Tampaknya Mando kelelahan bermain seharian, dia tertidur pulas di tangan Reysha. Hari mulai gelap, malam telah datang dan sebentar lagi Aldo pulang. Sambil menunggu Aldo, Reysha berbaring untuk sejenak beristirahat dari aktivitas kesehariaannya. Dia tertidur dan bermimpi. Reysha menyelam ke alam mimpinya dan mulai tenggelam.
Jam 02.00 pagi (04-11-2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar